Cerita Inspirasi- MPKMB 47

Nama : Elis Maisari

Laskar : 19

Cerita Inspirasi ke-1

Sering kali saya merasa penat dan muak dengan pola belajar yang terlalu menguras otak, hal tersebut sangat terasa sekali ketika kita duduk di jenjang kelas XII SMA. Keadaan dimana kita harus memperjuangkan hasil belajar kita selama 3 tahun dan keadaan yang juga menentukan akan kemana arah masa depan kita nantinya. Tetapi saya selalu meyakinkan pada diri saya setiap apa yang saya lakukan pasti akan membuahkan hasil, baik itu hasil yang baik atau pun hasil yang sama sekali tidak diinginkan. Atas keyakinan itu saya selalu berusaha untuk tetap bertahan dengan keadaan yang ada.

Di sekolah saya termasuk murid yang otaknya biasa saja, bisa dibilang rata-rata. Oleh karena itu sering kali muncul rasa takut akan tertinggal pelajaran dari teman-teman sekelas saya yang notabene otaknya di atas rata-rata. Karena alasan itu pula lah saya mengambil bimbingan belajar sampai dua sekaligus, ingin mendapatkan perguruan tinggi negeri (PTN) juga salah satu alasan saya.

Hari demi hari saya lalui dengan pola belajar yg saya ciptakan sendiri, kadang kelewat ngotot kadang terlalu menyepelekan. Akhirnya bulan-bulan yang penuh dengan segala macam tes pun tiba. Awal bulan april saya mengikuti salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di daerah Semarang. Waktu itu saya mempersiapkan diri saya semaksimal mungkin. Dari jauh hari saya sudah mengikuti intensif di bimbel yang saya ikuti. Namun sekitar 2 minggu kemudian keluarlah pengumuman kalau saya tidak lulus ujian. Saya berpikir tes pertama tidak apalah gagal, saya tetap mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri lain yang sangat diminati oleh banyak orang. Dengan persiapan yang lebih dari sebelumnya saya sangat menginginkan lulus ujian, karena itu merupakan perguruan tinggi negeri yang sangat saya idam-idamkan, mungkin juga semua orang. Apalah daya lagi-lagi saya dinyatakan tidak lulus. Semangat belajar saya sedikit menurun, hanya sedikit. Tapi saya tetap mengikuti tes perguruan tinggi negeri lain di Bandung yang lumayan saya inginkan juga. Susah payah saya lakukan demi ikut tes di perguruan tinggi negeri tersebut, dari pin pendaftaran hilang hingga harus ngekos sehari disana karena kehabisan hotel. Pada saat itu saya cukup optimis dengan hasil yang baik nantinya karena pada saat mengerjakan soal dengan lancer saya kerjakan. Namun lagi-lagi perjuangan yang saya lakukan sia-sia, untuk kesekian kalinya saya dinyatakan tidak lulus. Pada titik tersebutlan semangat saya yang dulunya menggebu-gebu lama kelamaan pudar begitu saja. Apalagi saya melihat teman-teman saya yang terlihat dengan gamapangnya mereka lulus ujian padahal usaha yang mereka lakukan mungkin tidak jauh berbeda dengan saya. Saya juga berpikir faktor keberuntungan juga lah yang membawa kita pada keberhasilan, namun hal itu tidak ada pada diri saya.

Akhirnya saya memutuskan untuk mundur dari pejuangan mendapatkan perguruan tinggi negeri dan memilih untuk kuliah di perguruan tinggi swasta saja. Saya lulus dalam tes perguruan tinggi swasta tersebut dan sudah membayar penuh biayanya. Namun suatu ketika saya bebincang-bincang dengan teman SMP saya dulu. Saya juga saling bercerita tentang tes-tes yang sudah kami ikuti. Saya sangat terkejut mendengar ceritanya, teman saya tersebut diterima di empat perguruan tinggi negeri sekaligus yang notabene ke empat-empatnya sangat diminati dan diincar kebanyakan orang. Teman saya bercerita tentang perjuangannya mendapatkan itu semua. Ternyata pola belajar yang saya lakukan selama ini sangatlah berbeda dengannya. Teman saya menerapkan pola belajar yang tidak ngotot, tepat sasaran, dinikmati dan juga santai tetapi serius. Berbeda sekali dengan saya yang sering kali ngotot dan sijadikan suatu beban. Pada saat itulah semangat saya mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri timbul kembali. Untungnya masih ada SNMPTN jadi saya masih bias berpeluang masuk perguruan tinggi negeri. Terinspirasi pola belajar teman saya jadi saya mencontoh apa yang dia lakukan. Saya belajar dengan apa adanya sampai tiba waktunya tes. Alhamdulillah beberapa minggu kemudian keluarlah pengumuman kalau saya lulus pada SNMPTN dan diterima pada pilihan pertama di perguruan tinggi negeri yang ternama di Indonesia yaitu IPB.

Cerita Inspirasi ke-2

Keluarga ada hal yang sangat penting untuk kebanyakan orang. Mempunyai keluarga yang bahagia adalah hal terindah yang pernah saya miliki selama ini. Keluarga saya tidak berbeda dengan keluarga orang lain kebanyakan. Suatu keluarga yang sederhana dan termasuk biasa-biasa saja. Tetapi saya sangat bangga sekaligus senang dengan keadaan keluargha saya. Ayah saya seorang wiraswasta yang memiliki sebuah toko sederhana. Toko tersebut beliau bangun sendiri sejak beliau muda. Lewat toko yang sederhana itulah ayah saya menghidupi istri dan anak-anaknya selama ini.

Toko milik ayah saya tidak begitu besar, sama sperti toko-toko lain kebanyakan. Saya sering kali melihat perjuangan ayah saya yang tidak kecil untuk terus berjuang menafkahi istri dan anak-anaknya. Sudah menjadi resiko seorang wiraswasta lah jikalau terjadi pasang surut dalam pendapatan sehari-harinya. Tetapi hal itu tidak mengubah niat ayah saya untuk terus membesarkan toko yang sudah susah payah beliau bangun.

Sejak kecil saya mempunyai angan-angan untuk membantu memajukan toko Ayah saya. Tetapi itu hanyalah angan-angan seorang anak kecil yang belum mengerti bagaiman cara mewujudkan angan-angannya sendiri, ketika sudah beranjak dewasa barulah saya sedikit mengerti bagaimana caranya.

Saya berniat meneruskan pendidikan saya ke bidang yang ada hubunganya dengan pekonomian, setidaknya hal itulah yang saya tau pada saat itu untuk mewujudkan keinginan saya. Saya pernah menceritakan hal tersebut kepada kakak laki-laki saya. Awalnya kakak saya tidak mendukung saya melanjutkan ke jurusan tersebut, namun karena alasan yang pernah saya kemukakan barulah kakak saya mengerti sekaligus langsung ingin ikut andil dengan apa yang pernah saya inginkan. Bahkan kakak saya terjun langsung langung membantu ayah saya untuk memajukan toko keluarga yang ayah saya jalankan sendiri selama ini. Walau pun pendidikan yang kakak saya jalani sangatlah berbeda dengan dunia perekonomian, tetapi hal itu rela kakak saya lakukan demi kami sekeluarga.

Beberapa tahun pun berlalu, toko keluarga kami pun mengalami perubahan yang cukup baik Walaupun tidak begitu pesat namun perlahan demi perlahan terjadi perubahan yang cukup menurut keluarga kami.

Posted in Uncategorized | Leave a comment